Search
  • Apni Jaya Putra

Netflix dan Tantangan Disney+ di Indonesia

Ada kasus layanan S-VOD di Asia Tenggara, platform OTT Hooq mati. Hoog dibuat oleh perusahaan seluler besar dari Singapura. Ada apa dengan Hooq mereka punya konten lokalnya, ada original series nya juga ? Hooq ternyata menggantungkan konten box office mereka kepada Disney Group. 80% konten hooq bergantung pada Disney. Saat itu model bisnis Disney masih berjualan konten untuk semua layanan pihak ketiga.


Menurut mantan pejabat Hooq di Indonesia, saat itu sudah ada tanda-tanda bahwa Disney akan membuat platform OTT sendiri. Disney menawarkan harga yang sangat tinggi untuk konten yang digunakan Hooq, sehingga Hooq tidak mampu membelinya dan pemegang saham Hooq memilih untuk menyuntik mati Hooq. Terlihat cara Disney mematikan kompetitornnya pelan-pelan.


Jika ada penantang Netflix yang disruptif, saya akan mengatakan Disney+. Disney+ memasuki pasar Asia Tenggara dengan harga yang sangat rendah. Riset dari Kantar menyebutkan bahwa pertimbangan terbesar orang Asia Tenggara untuk berlangganan OTT adalah harga. Struktur harga Netflix masih yang tertinggi di Asia Tenggara saat ini.


Dan selama hampir dua tahun, Neflix tidak bisa beroperasi secara masif di Indonesia karena Telkom Indonesia, pemilik 90% jaringan internet di Indonesia, memblokir akses netflix, hingga perusahaan ini mematuhi peraturan perpajakan Indonesia.


Di Indonesia, Disney+ melakukan strategi bundling dengan operator seluler terbesar di Indonesia, Telkomsel. Untuk pelanggan premium Telkomsel, Disney+ pun bisa diakses secara free.


Meski No 1 di Dunia, Netflix bukanlah No 1 di Indonesia. Menurut AMPD Research Platform OTT No. 1 di Indonesia adalah Disney+, disusul Viu, kemudian pemain lokal Vidio.com, disusul Netflix dan Mola, pemain lokal, di posisi 5.


Apa yang dapat dipelajari dari Disney+? Ia muncul setelah sukses Netflix di mana-mana. Disney+ meniru bisnis model yang sama dengan Netflik. Keunggulan Disney+ mereka memiliki jutaan jam library milik mereka sendiri. Untuk membesarkan Disney+ mereka menarik semua konten Disney yang ada di paytv, di OTT milik pihak ketiga.


Kedua, Disney+ megakuisisi konten-konten di bawah National Geographic dan Marvel. Ini memperkuat basis bisnis konten dan platform Disney+ ke pelanggan setia rumah tangga yang terbiasa menonton konten itu di tv berbayar sebelumnya. Season ketiga Gordon Ramsay, Unchartered misalnya kini dapat disaksikan di Disney+.


Disney baru-baru ini mengakuisisi sebagian besar aset hiburan 21st Century Fox senilai $71 miliar. Perlu waktu bertahun-tahun untuk menilai apakah CEO Disney Bob Iger membelanjakan uang perusahaannya dengan bijak – biayanya hampir $20 miliar lebih banyak dari yang semula direncanakan untuk dibelanjakan. Disney sedang membangun layanan streaming langsung ke konsumen yang disebut Disney+, dan Iger menginginkan konten Fox, yang mencakup serial seperti "The Simpsons," "Modern Family," dan karakter X-Men dan Fantastic Four.


Keberhasilan Disney mungkin akan ditentukan oleh seberapa baik ia mampu menggabungkan bisnis lainnya dengan Disney+. Ia memiliki bisnis taman hiburan yang sangat besar. Itu membuat ratusan juta setiap tahun dalam barang dagangan. Bisnis media warisannya, yang digerakkan oleh ESPN, memiliki model bisnis yang sama sekali berbeda dari streaming konten berlisensi dan asli. (University Of Cambridge, 2021)


Agar tak mengulangi kesalahan Netflix ketika masuk ke Indonesia. Disney sudah melakukan strategi bundling dengan operator selular Indonesia. Meyelesaikan semua landing right dan aturan regulasi perpajakan di Indonesia.


Ketiga, Disney+ menggunakan tarif yang termurah hanya 25.000 setahun dan bahkan gratis untuk loyal custumer Telkomsel. Disney+ juga memudahkan cara membayar dengan bekerjasama dengan operator fintech di Indonesia seperti GoPay, Link Aja dan lain-lain.


Apa yang diunggulkan Netflix? Netflix masih menjaga kekuatan di original content mereka. Belakangan Netflil merilis Squid Games, sebuah series drakor yang menghebohkan dunia. Kedua kualitas premium konten lokal mereka akan tetap dipertahankan. Harga mereka akan tetap premium karena Netflik menjaga kualitas tayangan mereka.


Penantang model Disney+ akan menggunakan metode serupa, konten premium dan freemium (gratis tapi bagus) akibatnya banyak pelanggan yang menjadi multihomer, artinya banyak orang yang tidak dapat meninggalkan Netflix tetapi juga berlangganan operator yang lain.


Pemimpin pasar seperti Neflix memang tidak boleh lengah, karena satu keunggulan pemimpin pasar bahwa mereka sudah meng create value industrinya. Mereka creatif dalam pengembangan platform dan ketiga mereka sudah punya ekosistem. Ini layaknya benteng yang dapat ditembus.


Tapi penantang punya cara yang kreatif dan persaingan akan menjadi sempurna. Ini dilemma bagi incumbent. Konten terbaru, harga yang lebih murah, cara membayar yang lebih mudah dan inovasi platform akan membuat Netflix tidak terlalu bisa tidur nyeyak. (AJP)



83 views0 comments