Search
  • Apni Jaya Putra

Lima Alasan Perusahaan “Kepayahan” dalam Transformasi Digital

Banyak perusahaan merasa tertinggal kalau belum beralih ke digital. Jika perusahaan lahir sudah digital akan lebih mudah menarapkan organisi perusahaan yang holakrasi, membebaskan hal-hal yang sifatnya divisional dalam pengambilan keputusan dan pemanfaatan teknologi yang mendukung sistem manajemen perkantoran yang e-office, surat digital dan sistem approval digital.

Sifat minimalist, sederhana dalam sistem yang menjunjung tinggi efisiensi dan ekeftifitas berbisnis manjadi nafas keseharian perusahaan digital. Pengukuran atas output dan result dalam kegiatan sales pada perusahaan digital lebih berhasil.


Didier Bonet (MIT Managament Sloan School, 2018) mengatakan:

“Jika diterapkan dengan baik, teknologi digital dapat meningkatkan pendapatan dan dapat mengubah pengalaman pelanggan, operasi, dan proses bisnis. Ketika salah urus, perusahaan berisiko menjadi usang’’

Lalu ada lima hal yang menurut Bonet (MIT, 2018) yang membuat perusahaan kepayahan dalam transformasi digital mereka.


1. Harapan yang tidak realistis


Beberapa organisasi mungkin terlalu optimis pada hari-hari awal transformasi digital, terpesona oleh teknologi tetapi kurang siap untuk beradaptasi dengannya. Saat ini, para pembuat keputusan menyadari betapa menakutkannya tantangan itu. “Kegembiraannya lebih pada teknologi digital daripada transformasi itu sendiri,” katanya.


“Sekarang orang menyadari transformasi sama pentingnya, jika tidak lebih.” Dia mencatat bahwa "master digital" - dengan visi digital yang kuat, komunikasi yang baik antar tim, dan berbagai inisiatif digital yang menghasilkan pendapatan - menikmati kinerja keuangan yang jauh lebih baik daripada non-master.


2. Talent yang kurang berkembang.


Perusahaan mengalami kesenjangan talent dan kompetensi, dan organisasi merasa sulit untuk melatih kembali karyawan saat ini. Kesenjangannya "besar, dan mungkin semakin besar," dia memperingatkan.


3. Komunikasi yang buruk.


Bentuk organisasi bertahan antara tim bisnis dan tim teknologi, dan biasanya ada jurang yang perlu dijembatani. Komunikasi antar dua organisasi ini buruk. “Kami sudah mulai mendobrak bangunan tetapi masih berjuang antara sisi bisnis dan teknologi,” ia mengingatkan.


4. Kurangnya budaya digital.


Karyawan tidak terlibat dalam inisiatif digital dengan cara yang disengaja. “Keterlibatan seluruh karyawan masih merupakan pengecualian sampai batas tertentu, minoritas. Orang-orang merasa sulit untuk menerjemahkan apa yang mereka lakukan dalam transformasi digital menjadi sesuatu yang berarti bagi produk front-end,”


5. Kompetisi konstan.


Sementara itu, ekspektasi digital pelanggan terus meningkat, terus meningkat secara real time. “Ambil contoh taksi: Aplikasi taksi terbaik telah menjadi norma de facto. Anda selalu diukur menuju yang terbaik, dan standar terus ditingkatkan dalam hal bagaimana Anda memberikan pengalaman pelanggan Anda,” katanya.


Bonet mengingatkan Kemajuan teknologi jauh mendahului kemampuan kita untuk mengadaptasi organisasi kita.


“Ketakutan saya adalah bahwa kita akan melihat polarisasi dari waktu ke waktu antara organisasi yang telah berhasil mengintegrasikan teknologi secara efektif dan melatih kembali orang-orang mereka, dan perusahaan-perusahaan itu benar-benar berjuang. Dalam pandangan saya, mereka menghadapi bahaya tertinggal,” kata Bonet meyakinkan.


53 views0 comments